Kamis, 25 April 2019

bunga

"Lantas bunga mana yang kamu pilih?
Asri sejenak mati,
Atau meranting namun abadi?"

Tulisan tersebut menjadi uraian singkat untuk menjelaskan keabadian segenggam bunga kering yang Ibu saya berikan saat saya berhasil lulus dari sidang akhir saya tersebut.


Sejenak kembali melihat hasil gugahan di Instagram,

kenangan kembali hadir
Bunga ini cerminan dirimu,


Terimakasih atas semua pelajaran yang berarti
Maaf balasanku tidak dapat mengimbangi
Mah, bunga ini akan selalu berada disini
Bersama dengan kengan manis tentang dirimu yang takkan lepas dari hati,

Hingga nanti saat kita bertemu lagi,
mungkin bercanda lagi
dengan semua raga dan kondisi,
yang belum sempat terfikirkan di otak ini
Sesuatu yang sudah disiapkan oleh Illahi


Di- 25 April 2019

Minggu, 07 April 2019

Sebuah Kata Pengantar Dalam Sebuah Buku Kecil

Kalau kamu pernah mendengar suara knalpot motor lama saat dipanaskan,
Groook... grook.. grook...
Itulah suara yang selalu saya dengar setiap akhir pekan di malam hari, suara saat ibu saya terlelap.
Sempat saya, si anak sulung beberapa kali terbangun kaget, atau bahkan tidak bisa tidur karena mendengar suara tersebut.

Atau ada kondisi dimana kami terbangun karena ibu tidur sambil membuang buang air kecil di atas kasur,
Akibatnya, kasur keluarga kecil kami terus bertambahkan corak pola-pola bekas buang air kecil dari hari ke hari,
Lucu rasanya,Mengingat kami sibuk menggoda ibu yang semakin hari semakin seperti anak kecil saja lalu selalu di respon oleh tawa lantangnya,

Namun kini suara di malam hari itu hilang,
Kini tidak ada lagi suara deru motor kuno di malam akhir pekan saya,
Kini suara itu yang membuat saya tenang,
Kini suara itu yang ingin saya dengar,
Karena saya tau saat suara itu ada, beliau ada di samping saya... beliau masih ada

Yang dulu menjadi candaan, kini kami rindukan,
dimana kami terbangun atau dibangunkan dimalam hari,
Karena tiba-tiba kasur kami basah, atau kami diminta untuk merubah posisi tidur kami sebelum kami terkena “basah” tersebut,
Hari-hari dimana ibu kami masih ada, ibu kami yang sempurna.

Disini kami menyadari,
Bahwa ternyata kesempurnaan itu hadir di tengah-tengah semua ketidaksempurnaan yang kami miliki.
Hidup kami kemarin sempurna,
Saat beliau masih bisa berada diantara kami..

Mamaku..
Andai mama tau kalau kami bertiga sedang membiasakan diri tanpa dirimu,
Mengawali hari tanpa sambutan doamu yang jitu,
Menelan ludah saat pulang tanpa ada sambutan hangatmu karena rindu,
Kami sibuk terhanyut dalam bisu,
Saat menyadari kami tak dapat lagi memelukmu,
Atau sekedar memegang tanganmu,
Kami mencoba terus menepis yang sendu kian panas karena lama tak bertemu,
Andai engkau tau,
Bagaimana kami mencoba untuk terus berfikir bahwa ini hanyalah mimpi semu..

Dan akhirnya kami tersadarkan,
Sebelum pergi tanpa pesan,
Hanya kamu satu-satunya yg tdk pernah mengecewakan.
Sudah hampir 3 bulan berjalan,
Kami masih kesepian,
Mah, sampai kapan?
Kami merasa terus ketakutan akan masa depan;
Atau sekedar tiba-tiba lupa tujuan,
Karena dihantui rasa kehilangan.
Sebagai manusia yang penuh kelemahan,
Seringkali kami tidak mampu membendung luapan air mata yang kami coba tahan,
Meski ternyata maut adalah keniscayaan,
Inna Lillahi wa inna ilayhi raji'un,
Ya Allah, Insha Allah kami sudah merelakan,
Karena segala yang terjadi pasti sudah Engkau rencakan,
Mama… mama sudah kami sudah ikhlaskan,
Semoga ketenangan di Surga yang akan kamu dapatkan..

Ya Allah kami mohon izinkan,
Pertemukan kami agar dapat berkumpul bersama kembali di akhir surga yang kekal..
Amin....

Dari kami yang ditinggalkan:
Suami : Herdigdo Tunjung Bawono
Anak : Dianty Bawono Putri & Biam Tunjung Suparte
Orang Tua : I Nyoman Saba & Euis Widanis
serta keluarga dari Bali & juga Bogor, juga sahabat-sahabat ibu Nismaya yang tidak dapat kami sebukan satu persatu


Kamis, 21 Maret 2019

Maret

aku tersadarkan,
sebelum pergi tanpa pesan,
hanya kamu satu-satunya yang tidak pernah mengecewakan

dua bulan sudah berjalan,
nyatanya aku masih kesepian

Mah, sampai kapan?
aku merasa ketakutan akan masa depan,
atau sekedar tiba-tiba lupa tujuan
karena dihantui semua kenangan,
dan rasa penuh kehilangan


3 Maret 2019 


Meja Makan

"didiiiiii"

haduh, suara itu lagi. Aku melihat ke arah jam dinding, sudah pukul 21.00 malam.

Aku beranjak dari kasurku, ku lemparkan buku yang sudah setengah kubaca. Sebenarnya sudah tiga kali aku menghabiskan novel itu, namun rasanya masih tetap sama meskipun sudah mulai usang buku ini.

"yes mommm"

"sini sayang, papa baru pulang. Yuk temenin papa makan"

Aku berjalan keluar kamar dengan malas, ku hampiri papa dan ku peluk. lalu ku lirik handphoneku yang berada di sebelah meja makan, aku ambil diam diam lalu ku duduk di meja makan sambi menaruh handphoneku di bawah meja makan.

'siapa tau bisa bales sms temenku yang belum ku balas sejak sejam lalu'

"Didi, apa itu di bawah meja nak?"

aku cengegesan.. hehe.. ketahuan deh..
akupun mengembalikan handphoneku di meja sebelah meja makan, lalu kembali ke meja makan.

"Jadi

Selasa, 19 Maret 2019

Televisi

Harus diakui, selera ku akan film memang payah.
Tidak suka menonton film - film yang berat, tidak suka film korea, tidak suka terlalu mengikuti serial film luar yang banyak episodenya.

Seleraku jauh berbeda dengan selera teman-teman, maupun keluargaku dirumah.
Papa suka film yang berbau Kolosal, adikku suka menonton film luar, mama suka nonton law in order. kalo sudah kumpul, mereka asik menonton dan aku juga di depan televisi... sambil bermain handphone untuk sekedar buka-tutup medsos beberapa kali, atau menggunakan handphone itu untuk menutup mataku saat banyak adegan penuh darah tertampang di layar tv kami.

Sampai akhirnya Adikku mendapatkan kuliah di Canada, kami bangga.
Papa harus dinas di Dubai, lagi lagi, kami bangga.
setelah aku lulus berkuliah di Bandung, akhirnya aku memutuskan untuk menempati rumah Jakarta dibandingkan tinggal bersama mama di Bogor, namun setiap akhir pekan, entah mama ke Jakarta, atau aku yang bermain di Bogor.

Sabtu Minggu adalah hari kami.

Di sela-sela kekongan dirumah, akhirnya aku menyukai tv rumah kami.
Bukan, bukan untuk menonton film kolosal, atau menonton film drama korea.
kesukaan ku disini adalah menonton sinetron... di channel lokal. (ya silahkan kalo ingin memakiku, karena semua temanku pasti memaki saat tau hobi baruku ini)

Awal pertemuan Sabtu kami,
Mama terbengong-bengong melihat aku terlalu asik nonton sinetron itu. Mungkin kalo aku boleh menerka apa yang ada di hatinya, pikirannya sibuk dengan perkataan
"Udah mahal-mahal dibayarin tv kabel, nontonnya acara lokal"

Sabtu berikutnya, mama mulai duduk di sebelahku saat aku sedang asik menonton acara rutin harian itu. Sedikit-sedikit mama mulai bertanya kepadaku terkait pihak-pihak yang ada di dalam cerita dan alurnya. Namun tetap lebih sering memainkan game Candy Crush nya.
Harus aku akui, aku rasa mama mulai antusias dengan acara televisi yang aku sukai ini.

Hingga sabtu berikutnya,
Mama menyalakan tv sebelom acara kesukaan ku dimulai,
"Mah, ngapain?"
"Iya hariini sinetron itu lebih awal, soalnya abis ini mau ada acara lain"
"..............." HAHAHAHAHAHAHAHA
Aku tidak menyangka kalo akhirnya rasa ingin tau mama di hari sabtu kemarin benar-benar membuat mama mengikuti episodenya, lebih daripada aku.

Sejak itu, semakin dekat kami.
Kami memang dekat, hanya sekarang pasti ada topik hangat yang akan kami bicarakan, ya sinetron itu.
saat adik ku pulang, dan menyadari selera mama berubah, dia cuman berkata sekali sambil menggelengkan kepalanya

"percayalah, itu hanya cara mama mendekatkan diri dengan anak perempuannya"

aku hanya tertawa menanggapi respon adikku.

Hingga suatu Sabtu, ada kendala di rumah kami sehingga aku memutuskan untuk mengganti tv kabel langganan kami dengan tv kabel baru, dan hal ini membuat mama tidak bisa menonton sinetron kesukaannya. 
yang sebenarnya kesukaan ku, namun raut wajahnya sedikit sedih, mungkin karena mama mulai menyukai dari hati.. hihihi
Akhirnya kami streaming melalui handphone kami untuk menonton sinetron kami itu. 

Hingga Sabtu dan Minggu selesai, datanglah hari kerja, aku dan mama mencoba untuk terus berkomunikasi. Sabtu ini kami tidak bertemu, mama akan pergi ke Bali untuk menjenguk kakek yang sedang sakit,
sabtu ini kami jauh...........

Sempat berfikir untuk menghabiskan Sabtu bersama lagi, namun karena aku berfikir minggu depan juga bisa bersama, untuk apa memaksakan bertemu sekarang? Sudah, jangan manja dulu. hanya minggu ini kok.
Toh mama juga sedang meluangkan waktunya dengan orang tuanya,

"Hai sayang mama lagi nyetir nih, gimana kabar kamu?"
"Aku agak gaenak badan mom, kayak meriang tapi tidak, kayak vertigo tapi gak jatoh"
"Minum mertigo sayang, jangan sakit dong.. tau kan mama sayang sama kamu?"

aku hanya menjawab pertanyaannya dengan ketawa basa basiku, aku sedang tidak enak badan sekali.

"I love you sayang, jangan lupa minum jus ya biar sehat"
"Love you too, mom"
"Oia, afifah hilang tuh di sinetron itu. Kalo dia kembali, tolong kabarin mama ya. Mama lagi gakbisa nonton sinetron malem ini mau have fuuun. Bye sayang"
Aku menutup telfon itu sambil tertawa sedikit, emang.. hanya mama yang memiliki sikap konyol diluar batas seperti ini.

Hingga aku menyadari bahwa telpon itu adalah telepon terakhir dari mama untuk aku,
Hingga aku menyadari kalo mama benar benar gabisa nonton film kesukaan kami lagi.
Hingga aku menyadari kalo mama harus pulang..

Mah, afifah udah ketemu..... 
Dia selamat mah, kayak mama yang diselamatkan oleh Tuhan..

Dan sejak saat itu aku gak pernah menyukai menonton sinetron itu lagi,
itu sinetron kesukaan kami, bukan sinetron kesukaan aku saja.

Dan televisi rumah kembali padam. 

Senin, 18 Maret 2019

dapur.

Hari Sabtu lainnya, mataku terbuka lebar karena menyadari waktu sudah menunjukkan pukul 10 siang.
Setelah keluar dari kamar aku baru menyadari bahwa meja makan sudah tertata rapih, dan ada bunyi ribut-ribut sedikit di dapur,
'asyik mama pasti masak'

Memang weekend itu hari yang menyenangkan, hari dimana kita terbiasa untuk meluangkan waktu bersama. Mama sibuk memasak makanan-makanan untuk aku santap siang ini. Jangan bermain-main sama masakan mama, rendangnya lebih nikmat daripada rendang rumah makan padang, Sop Ikannya lebih menarik daripada sop ikan batam, sambel matahnya lebih juara daripada salam mata bu okky bali, hanya satu yang belum berhasil mama kalahkan, nikmatnya pangsit goreng bakmi GM..hehehe

Sedangkan aku? Masak air saja suka lupa matiin, tau-tau semua air sudah meluap dari tekkonya. 
Masakan mama, meski cuman nasi pake sambel dan teri, kalo disuapin rasanya nikmat sekali. Biasanya, sambil memasak mama suka kalo aku juga berada di Dapur.
Bukan, bukan untuk membantu mama memasak, mama mengerti aku tidak bisa membantu apa-apa disana. Hanya sekedar untuk berbincang mengenai hariku seminggu kebelakang atau membicarakan masa depan, atau hal-hal konyol yang sebenarnya tidak perlu dibacarakan, tapi kami suka.

"Sejak kapan sih mama bisa masak?" ujarku tiba-tiba
"Sejak kamu lahir."
"Loh sebelumnya...?"
"Hahahahha, mama sama kamu tuh sama-sama males ke dapur" tangannya sibuk memasukkan segala macam bumbu ke blender, hari ini menunya udang saus padang.
"Terus kenapa sekarang mama kalo sabtu masak mulu?"
"Pas kamu lahir, mama pengen nanti pas kamu udah gede, yang mama denger 'mah masak dong laper nih aku' bukannya 'mah laper, ke restoran yuk, bahagiaaaaa'" katanya dengan suara bahagia yang dibuat-buat, mata terpejam, juga menaruh kedua tangannya di dada seakan-akan jantungnya akan copot, kami pun tertawa bersama.

kini aku tersenyum mengingatnya,
hari sabtu lainnya itu,  
rupanya Sabtu tidak akan aku miliki lagi.
ya siapa juga yang tidak suka semua masakan mama.
salah satu mimpi mama terwujud, mimpi yang sederhana,
mimpi yang tidak macem-macam.
Tidak perlu neko-neko,
mimpi yang sederhana, namun bahagia tetap terasa saat mimpi tersebut dapat digapai.
Aku jadi ingin terus bermimpi, lalu menggapai mimpi itu dan berbahagia saat berhasil menggapainya. Seperti mimpi mama, mimpi yang sederhana.

kalo mimpi aku bertemu mama lagi,

apakah mimpi ini terlalu besar mah?

Gramedia

Memiliki rambut yang seringkali pendek, pendek sekali layaknya anak laki-laki. Memiliki rambut bergelombang. Tidak pernah peduli dengan penampilannya. Hanya berangkat dengan ransel kecil dan sepatu kets, dilengkapi celana jeans selutut dan kaos nyamannya, dia sudah siap mengelilingi kota-kota di Indonesia. Namun hobi memiliki alat-alat kecantikan, yang akhirnya akan digunakan oleh aku sendiri. Apa mungkin niatnya membeli alat-alat kecantikan untuk aku ya? 

Meski jarang perawatan, kulitnya halus, senyumnya manis. Bukan cuman aku yang mengakui hal itu, banyak yang bilang begitu. Dia jarang memiliki uban, berbeda dengan teman-temannya, kerap kali  aku bertanya 
“kok ga ubanan sih? Kapan cat rambutnya?” 

Dia ketawa sambil sesekali menghisap rokok sampoerna mild di tangannya. Sambil tersenyum dia berkata, “Adik kamu tuh gak mau tuh lihat aku punya uban kalo pulang kesini. Kelihatan tua katanya. Ngapain cat rambut, bahagia saja cukup”.  
Oia, memang hidupnya penuh dengan tawa, rasanya baru kemarin aku mendengar suara cerianya yang sesekali di iringi oleh tawa yang tidak jarang membuat jatung ku berdetak lebih cepat karena volume suaranya yang sering diluar kendali. 

“Jadi kamu gak keterima universitas negeri? Jadi sekarang mau ngapain?” 


“Ya… sesuai plan berarti, aku nganggur dulu setahun…” 


“Hahahahahahaha asik dong” 

“Hah? Kok asik sih?”

 “Berarti setahun ini hidup kamu akan full sama aku, kita Jalan-Jalan kemana ya? Aku lagi pengen ke Subang deh, yuk besok temenin aku kesana?”

“Kamu gak kecewa? Marah kek dikit.” 

“Kecewa karena kamu akan sibuk menghabiskan waktumu bersamaku? Hahahahaha ada ada saja” 

“Kamu gak marah?” 

“Aku sudah melihat kamu berusaha, untuk apa marah. Kecuali diam-diam kamu menyelipkan hp mu di antara buku-buku yang sedang kamu baca” katanya cuek sambil sibuk memainkan game candy crush di handphonenya.

Aku tersenyum, seperti biasa. Disampingnya selalu merasa tenang. Disampingnya selalu merasa semuanya cukup, karena memang hal itu yang sebenarnya dibutuhkan oleh kita, merasa cukup. 

Aku mulai menginjakkan gas untuk memajukan kendaraan kami. Oia, hari itu hari Sabtu. Hari dimana aku selalu diculik oleh dirinya, atau kadang dia yang aku culik. Untuk meluangkan waktu berdua, kadang bertiga kalo adikku sedang tidak malas keluar rumah, atau berempat apabila ayah sedang tidak dinas di luar Jakarta. 

“Jadi ya ke Gramedia?” 

“Lets goooooo!” 

“Hahahahahahahahahha” 

Gramedia adalah tempat kesukaan kami, dari aku masih kecil. Dulu, aku bisa membeli hingga 8 buku novel anak-anak atau remaja setiap ke gramedia, bahkan lebih. Tanganku sampai tidak muat untuk memegang semuanya, namun setiap dia menawarkan bantuannya untuk menaruh semua buku di dalam keranjang belanjaan, aku menolak. Takut dia mengurangi buku yang ku pilih diam diam. Padahal itu tidak mungkin hahahaha. Gramedia adalah tempat dimana aku bisa membeli banyak buku. Dia tidak pernah melarang aku membeli buku apapun, 

“Yang penting kamu suka membaca, itu awalan anak yang cerdas” 

“Aku suka buku komik sama novel doang tapi, gapapa?” 

“Gak apa-apa dong. Gak ada buku yang jelek sayang..” 

“Kalo buku komik doraemon?” 

“Bagus, kamu jadi tau gaboleh bergantungan sama alat doraemon “ 

“Komik shinchan? Kan mamanya suka mukulin shincan?” 

“Bagus ah tetap ada pesannya, kamu harus jadi anak baik jangan nakal kayak shinchan” 

“Kalo majalah?” 

“Bagus kok itu. Kamu jadi tau pengetahuan terkini” 

“Kalo majalah pria dewasa?” 

“Hahahahahahahaha pokoknya gak ada buku yang jelek.” katanya sambil mengacak-acak rambutku yang sudah kutata rapih. Aku melihatnya sambil tersenyum lagi, lalu menyalakan radio untuk menunggu lagu-lagu yang kami tau dan akan kami nyanyikan sepanjang perjalanan. Suara kami memang tidak bagus, tapi cukup lah untuk dinikmati kami berdua. 

 “Oia, jadinya tadi kamu beli buku apa?” 

“Kayak biasa, khalil gibran, chicken soup, dan gede prama” 

“Ih bosen deh belinya buku-buku gitu lagi. Buat apasih?” 

“Aku suka sesuatu yang membuatku terinspirasi, jadi pengen menjadi sosok yang lebik baik 
lagi gitu hahaha” sambil sibuk membuka plastik dari buku-buku barunya. Sepertinya ada yang sibuk membaca malam ini, aku melihatnya sambil berfikir


Seandainya kamu menyadari, tidak perlu mencari orang yang membuatmu terinspirasi, 

Kamulah sosok yang pantas untuk dijadikan inspirasi orang-orang,Mah

bunga

"Lantas bunga mana yang kamu pilih? Asri sejenak mati, Atau meranting namun abadi?" Tulisan tersebut menjadi uraian singk...