Memiliki rambut yang seringkali pendek, pendek sekali layaknya anak laki-laki. Memiliki rambut bergelombang. Tidak pernah peduli dengan penampilannya. Hanya berangkat dengan ransel kecil dan sepatu kets, dilengkapi celana jeans selutut dan kaos nyamannya, dia sudah siap mengelilingi kota-kota di Indonesia. Namun hobi memiliki alat-alat kecantikan, yang akhirnya akan digunakan oleh aku sendiri. Apa mungkin niatnya membeli alat-alat kecantikan untuk aku ya?
Meski jarang perawatan, kulitnya halus, senyumnya manis. Bukan cuman aku yang mengakui hal itu, banyak yang bilang begitu. Dia jarang memiliki uban, berbeda dengan teman-temannya, kerap kali aku bertanya
“kok ga ubanan sih? Kapan cat rambutnya?”
Dia ketawa sambil sesekali menghisap rokok sampoerna mild di tangannya. Sambil tersenyum dia berkata, “Adik kamu tuh gak mau tuh lihat aku punya uban kalo pulang kesini. Kelihatan tua katanya. Ngapain cat rambut, bahagia saja cukup”.
Oia, memang hidupnya penuh dengan tawa, rasanya baru kemarin aku mendengar suara cerianya yang sesekali di iringi oleh tawa yang tidak jarang membuat jatung ku berdetak lebih cepat karena volume suaranya yang sering diluar kendali.
“Jadi kamu gak keterima universitas negeri? Jadi sekarang mau ngapain?”
“Ya… sesuai plan berarti, aku nganggur dulu setahun…”
“Hahahahahahaha asik dong”
“Hah? Kok asik sih?”
“Berarti setahun ini hidup kamu akan full sama aku, kita Jalan-Jalan kemana ya? Aku lagi pengen ke Subang deh, yuk besok temenin aku kesana?”
“Kamu gak kecewa? Marah kek dikit.”
“Kecewa karena kamu akan sibuk menghabiskan waktumu bersamaku? Hahahahaha ada ada saja”
“Kamu gak marah?”
“Aku sudah melihat kamu berusaha, untuk apa marah. Kecuali diam-diam kamu menyelipkan hp mu di antara buku-buku yang sedang kamu baca” katanya cuek sambil sibuk memainkan game candy crush di handphonenya.
Aku tersenyum, seperti biasa. Disampingnya selalu merasa tenang. Disampingnya selalu merasa semuanya cukup, karena memang hal itu yang sebenarnya dibutuhkan oleh kita, merasa cukup.
Aku mulai menginjakkan gas untuk memajukan kendaraan kami. Oia, hari itu hari Sabtu. Hari dimana aku selalu diculik oleh dirinya, atau kadang dia yang aku culik. Untuk meluangkan waktu berdua, kadang bertiga kalo adikku sedang tidak malas keluar rumah, atau berempat apabila ayah sedang tidak dinas di luar Jakarta.
“Jadi ya ke Gramedia?”
“Lets goooooo!”
“Hahahahahahahahahha”
Gramedia adalah tempat kesukaan kami, dari aku masih kecil. Dulu, aku bisa membeli hingga 8 buku novel anak-anak atau remaja setiap ke gramedia, bahkan lebih. Tanganku sampai tidak muat untuk memegang semuanya, namun setiap dia menawarkan bantuannya untuk menaruh semua buku di dalam keranjang belanjaan, aku menolak. Takut dia mengurangi buku yang ku pilih diam diam. Padahal itu tidak mungkin hahahaha. Gramedia adalah tempat dimana aku bisa membeli banyak buku. Dia tidak pernah melarang aku membeli buku apapun,
“Yang penting kamu suka membaca, itu awalan anak yang cerdas”
“Aku suka buku komik sama novel doang tapi, gapapa?”
“Gak apa-apa dong. Gak ada buku yang jelek sayang..”
“Kalo buku komik doraemon?”
“Bagus, kamu jadi tau gaboleh bergantungan sama alat doraemon “
“Komik shinchan? Kan mamanya suka mukulin shincan?”
“Bagus ah tetap ada pesannya, kamu harus jadi anak baik jangan nakal kayak shinchan”
“Kalo majalah?”
“Bagus kok itu. Kamu jadi tau pengetahuan terkini”
“Kalo majalah pria dewasa?”
“Hahahahahahahaha pokoknya gak ada buku yang jelek.” katanya sambil mengacak-acak rambutku yang sudah kutata rapih. Aku melihatnya sambil tersenyum lagi, lalu menyalakan radio untuk menunggu lagu-lagu yang kami tau dan akan kami nyanyikan sepanjang perjalanan. Suara kami memang tidak bagus, tapi cukup lah untuk dinikmati kami berdua.
“Oia, jadinya tadi kamu beli buku apa?”
“Kayak biasa, khalil gibran, chicken soup, dan gede prama”
“Ih bosen deh belinya buku-buku gitu lagi. Buat apasih?”
“Aku suka sesuatu yang membuatku terinspirasi, jadi pengen menjadi sosok yang lebik baik
lagi gitu hahaha” sambil sibuk membuka plastik dari buku-buku barunya. Sepertinya ada yang sibuk membaca malam ini, aku melihatnya sambil berfikir
Seandainya kamu menyadari, tidak perlu mencari orang yang membuatmu terinspirasi,
Kamulah sosok yang pantas untuk dijadikan inspirasi orang-orang,Mah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar