Groook... grook.. grook...
Itulah suara yang selalu saya dengar setiap akhir pekan di malam hari, suara saat ibu saya terlelap.
Sempat saya, si anak sulung beberapa kali terbangun kaget, atau bahkan tidak bisa tidur karena mendengar suara tersebut.
Atau ada kondisi dimana kami terbangun karena ibu tidur sambil membuang buang air kecil di atas kasur,
Akibatnya, kasur keluarga kecil kami terus bertambahkan corak pola-pola bekas buang air kecil dari hari ke hari,
Lucu rasanya,Mengingat kami sibuk menggoda ibu yang semakin hari semakin seperti anak kecil saja lalu selalu di respon oleh tawa lantangnya,
Namun kini suara di malam hari itu hilang,
Kini tidak ada lagi suara deru motor kuno di malam akhir pekan saya,
Kini suara itu yang membuat saya tenang,
Kini suara itu yang ingin saya dengar,
Karena saya tau saat suara itu ada, beliau ada di samping saya... beliau masih ada
Yang dulu menjadi candaan, kini kami rindukan,
dimana kami terbangun atau dibangunkan dimalam hari,
Karena tiba-tiba kasur kami basah, atau kami diminta untuk merubah posisi tidur kami sebelum kami terkena “basah” tersebut,
Hari-hari dimana ibu kami masih ada, ibu kami yang sempurna.
Disini kami menyadari,
Bahwa ternyata kesempurnaan itu hadir di tengah-tengah semua ketidaksempurnaan yang kami miliki.
Hidup kami kemarin sempurna,
Saat beliau masih bisa berada diantara kami..
Mamaku..
Andai mama tau kalau kami bertiga sedang membiasakan diri tanpa dirimu,
Mengawali hari tanpa sambutan doamu yang jitu,
Menelan ludah saat pulang tanpa ada sambutan hangatmu karena rindu,
Kami sibuk terhanyut dalam bisu,
Saat menyadari kami tak dapat lagi memelukmu,
Atau sekedar memegang tanganmu,
Kami mencoba terus menepis yang sendu kian panas karena lama tak bertemu,
Andai engkau tau,
Bagaimana kami mencoba untuk terus berfikir bahwa ini hanyalah mimpi semu..
Dan akhirnya kami tersadarkan,
Sebelum pergi tanpa pesan,
Hanya kamu satu-satunya yg tdk pernah mengecewakan.
Sudah hampir 3 bulan berjalan,
Kami masih kesepian,
Mah, sampai kapan?
Kami merasa terus ketakutan akan masa depan;
Atau sekedar tiba-tiba lupa tujuan,
Karena dihantui rasa kehilangan.
Sebagai manusia yang penuh kelemahan,
Seringkali kami tidak mampu membendung luapan air mata yang kami coba tahan,
Meski ternyata maut adalah keniscayaan,
Inna Lillahi wa inna ilayhi raji'un,
Ya Allah, Insha Allah kami sudah merelakan,
Karena segala yang terjadi pasti sudah Engkau rencakan,
Mama… mama sudah kami sudah ikhlaskan,
Semoga ketenangan di Surga yang akan kamu dapatkan..
Ya Allah kami mohon izinkan,
Pertemukan kami agar dapat berkumpul bersama kembali di akhir surga yang kekal..
Amin....
Dari kami yang ditinggalkan:
Suami : Herdigdo Tunjung Bawono
Anak : Dianty Bawono Putri & Biam Tunjung Suparte
Orang Tua : I Nyoman Saba & Euis Widanis
serta keluarga dari Bali & juga Bogor, juga sahabat-sahabat ibu Nismaya yang tidak dapat kami sebukan satu persatu

perlahan semua akan terbiasa kembali dengan suatu kebiasaan yang baru. sabar dan doa kan mama ya...
BalasHapusTerimakasih banyak <3
Hapus